Bali Mamuja

berisikan catatan tentang dinamika budaya Bali

Rabu, 29 Juli 2015

Balinese language threatened by new curriculum

Balinese language threatened by new curriculum
Posted on January 18 2013 | 623 views
balinese
Hundreds of university students from across Bali rallied yesterday in a demonstration in front of the parliament building in Renon to show their opposition to the newly proposed 2013 school curriculum, that according to them, could result in the dilution of Balinese culture, traditions and language.
Under the new scheme, Balinese lessons will be scrapped, and arts and culture classes will be expanded to incorporate teachings and cultural input from all over the Indonesian archipelago, not just Bali.
Opposition supporters argue that the integration of national cultures into one class means less time to focus on Balinese traditions, and threatens the existence of the Balinese language.
“This merger of art and culture threatens the Balinese language with extinction,” stated activist I Nyoman Suka Ardiyasa as he unfurled a banner outside the parliament building.
Furthermore, students are calling on all parties to prioritise and maintain the Balinese language, which is widely spoken by the majority of local people in the island, and provides a strong sense of identity and pride.
Chairman of Commission IV DPRD Bali, Nyoman Parta promised to be ready to fight for the demands of the students who oppose the new curriculum.
“Language is a medium of expression for Balinese Hindu culture,” added Ardiyasa, “it cannot disappear”.
Source:
Photo: www.bodley.ox.ac.uk
- See more at: http://beatmag.com/daily/balinese-language-threatened-by-new-curriculum/#sthash.KKXjBD4v.dpuf

demo di depan kantor DPRD bali

demo di depan kantor DPRD bali

Denpasar 17/01(Seputarbali.com) - Ribuan mahasiswa yang mengatasnamakan diri Aliansi Peduli Bahasa Daerah se-Bali menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor DPRD Bali untuk menolak kurikulum 2013 tentang pengintegrasian muatan lokal dengan seni budaya.

Selain membentengkan sejumlah spanduk bertuliskan "jangan jadikan kami korban kurikulum", "hidup di Bali mati di Bali" dan lainnya, para demonstran dari berbagai universitas di Bali ini juga meneriakkan yel-yel penolakan penggabungan bahasa Bali ke dalam seni budaya.

Aliansi Peduli Bahasa Daerah se-Bali memandang pemahaman terhadap budaya lokal menurun, pelestarian bahasa daerah tidak maksimal. Para pendemo menilai bahasa Bali merupakan media pengungkapan kebudayaan Hindu Bali. Pasalnya, jika bahasa Bali hilang maka simbol-simbol budaya juga akan hilang.

Menurut koordinator aksi, I Nyoman Suka Ardiyasa, penggabungan bahasa daerah ke dalam seni budaya akan berdampak pada kepunahan bahasa Bali. "Dengan pengabungan tersebut, kepunahan bahasa Bali semakin dekat, karena terjadi pengkaburan bahasa Bali," ujar Ardiyasa, Kamis (17/1/2013).

Bahasa Bali yang masih eksis menurut Ardiyasa hingga kini tetap dan harus dipertahankan. "Jam mata pelajaran bahasa Bali berkurang. Dan ini mengancam keberadaan budaya Bali," tegas Ardiyasa.

Bagi Ardiyasa, bahasa Bali harus dipertahankan karena merupakan kebanggaan masyarakat Bali. "Dari kecil saya mengunakan bahasa Bali. Kalau sampai dihapus, artinya mengganti identitas orang Bali. Kita tidak mau bahasa Bali diganti bahasa lain," pintanya.

Para demonstran akhirnya diterima dan diajak berdialog oleh anggota DPRD Bali. Dalam kesempatan itu, Ketua Komisi IV DPRD Bali, Nyoman Parta akhirnya sepakat dan berjanji akan memperjuangkan aspirasi ribuan mahasiswa Bali 
tersebut.
 sumber http://blogger-iwayanmardiana.blogspot.com/2013_01_18_archive.html

Ratusan Mahasiswa Bali Demo Tolak Kurikulum 2013

Ratusan Mahasiswa Bali Demo Tolak Kurikulum 2013
"Bahasa Bali haus dipertahankan karena merupakan taksu dan kebanggaan masyarakat Bali"
Ragam - Oleh : Arnold Dhae
17 - Jan - 2013 12:03:11

Denpasar (beritadewata.com) - Ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Bali menggelar aksi unjuk rasa. Aksi demonstrasi yang dipusatkan di Gedung DPRD Bali itu dimaksudkan untuk menolak kurikulum 2013, salah satunya adalah pengintegrasian muatan lokal dengan seni budaya.

Ratusan mahasiswa yang menamakan diri Aliansi Peduli Bahasa Daerah se-Bali itu menyemuti taman DPRD Bali sejak pukul 10.00 WITA. Mereka meneriaki yel-yel penolakan sembari membentengkan sejumlah spanduk. Korlap aksi, I Nyoman Suka Ardiyasa menjelaskan, penggabungan bahasa daerah ke dalam mata pelajaran seni budaya berdampak pada kepunahan bahasa Bali. "Dengan pengabungan tersebut, kepunahan bahasa Bali semakin dekat, karena terjadi pengkaburan bahasa Bali," kata dia, Kamis (17/1).

Ia melanjutkan, bahasa Bali yang masih hidup hingga kini tetap dan harus dipertahankan. "Jam mata pelajaran bahasa Bali berkurang. Dan ini mengancam bahasa Bali dan keberadaan budaya Bali dalam bahasa Bali itu lah bisa dipelajari budaya Bali," imbuh Ardiyasa.

Menurutnya, bahasa Bali haus dipertahankan karena merupakan taksu dan kebanggaan masyarakat Bali. "Dari kecil saya mengunakan bahasa Bali. Kalau sampai dihapus, artinya mengganti identitas orang Bali. Kita tidak mau bahasa Bali diganti bahasa lain," tegas Ardiyasa.

Dalam selebaran tuntutan yang dibagikan, aliansi memandang jika pemahaman terhadap budaya lokal menurun, maka pelestarian bahasa daerah tidak maksimal. Mereka juga menyebut jika bahasa Bali merupakan media pengungkapan kebudayaan Hindu Bali. Artinya, jika bahasa Bali hilang maka simbol-simbol budaya juga akan hilang. Dengan membawa spanduk bertuliskan "jangan jadikan kami korban kurikulum", "hidup di Bali mati di Bali" dan lainnya, ribuan mahasiswa yang didampingi dosen mereka itu diajak berdialog dengan anggota DPRD Bali.

Ketua Komisi IV DPRD Bali, Nyoman Parta sepakat dan berjanji akan memperjuangkan aspirasi mereka.
sumber 
http://pendidikan.beritadewata.com/berita/Ragam/Ratusan-Mahasiswa-Bali-Demo-Tolak-Kurikulum-2013.html

''Jangan hapus bahasa Bali!''

''Jangan hapus bahasa Bali!''

lagi, Bali menentang penghapusan bahasa Bali dari Kurikulum 2013. Pagi ini (1/4/2013) ratusan mahasiswa dari Aliansi Peduli Bahasa Daerah se-Bali berdemo di halaman DPRD Bali di Denpasar. Pelajaran bahasa Bali belum dicantumkan ke dalam kurikulum, padahal bahasa Jawa dan Sunda sudah.

Januari lalu (17/1/2013) juga ada demo sejenis. “Penggabungan bahasa daerah ke dalam seni budaya berdampak pada kepunahan bahasa Bali,” kata korlap demo saat itu, I Nyoman Suka Ardiyasa, yang dikutip oleh Okezone.
Sumber ; http://beritagar.com/p/jangan-hapus-bahasa-bali

Antyo R.

Bahasa Bali tetap Diperjuangkan Jadi Mulok

Bahasa Bali tetap Diperjuangkan Jadi Mulok
"Semua elemen masyarakat Bali harus ikut bersuara guna mendesak pemerintah pusat "
Denpasar (beritadewata.com) - Keresahan atau kekuatiran akan punahnya bahasa Bali karena ancaman akan dihapusnya muatan lokal dalam mata pelajaran di sekolah memancing reaksi berbagai elemen masyarakat Bali. Ketua Asosiasi Peduli Bahasa Bali I Nyoman Suka Ardiyasa saat ditemui di Renon, Kamis (17/1) menjelaskan, saat ini saja banyak anak-anak remaja sudah tidak bisa lagi berbahasa daerah Bali dengan baik dan benar. "Dengan kondisi seperti ini, pelajaran Bahasa Bali sebagai muatan lokal mau disatukan dengan pelajaran Seni Budaya, maka cepat atau lambat hancur lagh Bahasa Bali di negerinya sendiri. Dan dengan itu budaya Bali juga akan terkikis secara perlahan namun pasti," ujarnya.

Menurutnya, semua elemen masyarakat Bali harus ikut bersuara guna mendesak pemerintah pusat yang dalam hal ini adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar Bahasa Bali tetap menjadi mata pelajaran tersendiri. Ia mengaku dirinya bersama teman-teman pernah datang ke Jakarta ke bagian kurikulum untuk menyampaikan tujuan dimaksud. "Itulah sebabnya tim dari Kementerian Pendidikan datang ke Bali untuk mendengarkan secara langsung aspirasi masyarakat Bali," ujarnya. Maka ia berharap agar para budayawan, akademisi, tokoh masyarakat perlu ikut memperjuangkan hal tersebut.

Sementara itu Ketua Komisi IV DPRD Bali Nyoman Parta yang ditemui di tempat yang sama berjanji menindaklanjuti usulan tokoh masyarakat, mahasiswa, dan kalangan akademisi terkait perubahan kurikulum pendidikan, khususnya penggabungan pelajaran bahasa daerah dengan seni dan budaya. "Kami akan menindaklanjuti aspirasi dan usulan dari para tokoh masyarakat, mahasiswa dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi terkait kurikulum pendidikan itu," katanya. Menurut dia, bahasa Bali seharusnya menjadi kurikulum muatan lokal, bukan digabung dengan mata pelajaran seni dan budaya seperti yang direncanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu. Ia berjanji jika komisinya akan menggelar rapat dengan Gubernur Bali dan instansi terkait agar Bahasa Bali tetap diajarkan dan pendanannya bisa diambil dari APBD.

Parta lebih lanjut mengharapkan kepada desa pakraman (adat) di Bali ikut serta melakukan upaya pelestarian bahasa Bali. Salah satunya memberikan penyuluhan kepada masyarakat di sekitarnya. "Dana hibah yang dialokasikan melalui APBD untuk desa pakraman (adat) yang dibagikan masing-masing Rp100 juta, bisa disisihkan untuk dana pemberdayaan masyarakat melalui pengangkatan seorang penyuluh bahasa Bali," katanya. Untuk honor tenaga penyuluh bahasa Bali tersebut agar disesuaikan dengan upah minimum kabupaten (UMK).

sumber ;
http://beritadewata.com/Jendela-Pendidikan/Ragam/Bahasa-Bali-tetap-Diperjuangkan-Jadi-Mulok.html
Kategori : Jendela Pendidikan(Ragam)
Oleh : Arnold Dhae   |   Tanggal : 17 - Jan - 2013 17:29:59

Ribuan Guru Bahasa Bali Terancam Menganggur

Ribuan Guru Bahasa Bali Terancam Menganggur
" Ada sekitar 9 ribu orang guru bahasa Bali yang terancam kehilangan pekerjaan"
Denpasar (beritadewata.com) - Ribuan guru bahasa Bali saat ini terancam kehilangan pekerjaan. Hal ini seiring dengan tidak diakomodirnya bahasa Bali dalam kurikulum baru yang akan diberlakukan Juli 2013. Bahasa Bali hanya masuk dalam mata pelajaran seni budaya. Ketua Asosiasi Peduli Bahasa Daerah Bali I Nyoman Suka Ardiyasa saat ditemui di Denpasar, Senin (1/4) mengatakan, akibat tidak diakomodirnya bahasa Bali dalam kurikulum 2013, ada ribuan guru bahasa Bali yang terancam kehilangan pekerjaan. "Mata pelajaaran bahasa Bali yang selama ini menjadi Mulok sudah terintegrasi ke dalam pelajaran seni budaya. Pertanyaan kita, kemana guru bahasa Bali akan bekerja," ujarnya.

Saat ini ada sekitar 9 ribu orang guru bahasa Bali yang terancam kehilangan pekerjaan. Angka ini belum termasuk mahasiswa jurusan bahasa Bali di beberapa perguruan tinggi di Bali yang saat ini masih kuliah aktif. Bila dihitung semua maka jumlah akan mencapai ribuan dan mereka pasti kesulitan untuk mendapatkan tempat di lembaga pendidikan dari SD hingga SMA. Menurutnya, kelemahan utama penerapan bahasa Bali selama ini adalah perangkat hukum yang tidak jelas. Bila dibandingkan dengan bahasa Jawa dan Sunda maka bahasa Bali sama sekali tidak diatur baik dalam Perda maupun Pergub.

Tidak dimasukannya bahasa Bali ke dalam kurikulum dinilai sebagai langkah yang sangat kontraproduktif. Bahasa itu menunjukkan eksistensi seseorang, sekelompok orang atau suku tertentu. "Disebut tindakan kontraproduktif karena UNESCO sendiri mengakui bahasa Bali. Tetapi di Indonesia sendiri bahasa Bali tidak diakui," ujarnya. Dihapusnya bahasa Bali dari kurikulum tahun 2013, cepat atau lambat merupakan langkah awal secara sistematis akan tergerusnya akar budaya Bali dari generasi muda Bali.
sumber ;http://beritadewata.com/Peristiwa/Berita-Peristiwa/Ribuan-Guru-Bahasa-Bali-Terancam-Menganggur.html
Kategori : Peristiwa(Berita Peristiwa)
Oleh : Exxle Dhae   |   Tanggal : 01 - Apr - 2013 13:41:21

Kamis, 09 Juli 2015











Taksu, Catur Sanak dan Batara Hyang Guru.
Kabligbagang antuk Sugi Lanus
Dalam kesenian Bali kata 'taksu' adalah pembendaharaan kata yang sangat penting, sekaligus bisa mengundang berbagai interpretasi. Namun tidak banyak yang melihat konteks teologi kata 'taksu'.
Kata ”taksu” dikatakan berasal dari kata Sanskrit ”aksi” artinya melihat. Kemampuan seseorang melihat dengan mata batin dan penuh perhatian, menembus sampai ke ujung makna terdalam, itulah yang disebut mataksu. 
Ada pula pandangan yang mengatakan bahwa taksu berasal dari kata Sanskrit "taksh" yang artinya mencipta dan menemukan (create and invent). Seseorang yang punya kekuatan untuk 'menemukan' atau 'mencipta' dan juga menunjukan orisinalitas dirinya itulah disebut 'metaksu'.
Dalam konteks teologi Bali sangat jelas posisi kata 'taksu'. Batara Taksu adalah gelar Batara (Dewa Siwa). 'Aksi' atau 'taks': 'Melihat' dan 'mencipta' adalah sifat Keilahian. Secara turun-temurun orang Bali, walaupun banyak yang tidak sadar, menyebut dan memuja Hyang Siwa sebagai Batara Taksu, yang pelinggih atau altarnya ada disetiap Sanggah/Mrajan keluarga orang Bali.
Kemulan Taksu sebagai pemujaan Batara Siwa
Di hulu halaman (Ulun Karang) setiap rumah tinggal umat Hindu di Bali terdapat tempat pemujaan yang disebut Merajan/Sanggah Kemulan. Salah satu pelinggihnya disebut Taksu. Kamulan posisinya di deret timur dari areal Merajan. Sebutan lain untuk Kemulan Taksu adalah Pelinggih Batara Hyang Guru.
Keberadaan Pelinggih Taksu dan Kemulan berkaitan erat dengan kepercayaan terdalam Hindu yaitu Atma (ruh suci).
Disebutkan dalam Lontar Purwa Bhumi Kamulan, bahwa Atman yang telah mencapai tingkat Dewa Pitara atau Siddha Devata distanakan di Pelinggih Kamulan. Lontar lain yaitu Lontar Gayatri mengatakan manusia yang meninggal ruhnya sebut Preta, setelah diaben menjadi Pitara, lewat proses Atma Wedana menjadi Dewa Pitara.
Lontar Siwa Tattwa Purana sangat detail menyangkut upacara Ngaben. Disebutkan ada lima jenis upacara Atma Wedana berdasarkan besar kecilnya upacara yaitu: Ngangsen, Nyekah, Mamukur, Maligia dan Ngeluwer. Setelah sang ruh disucikan menjadi Dewa Pitara masih ada proses lanjutan berupa upacara yang disebut Dewa Pitra Pratistha, atau umumnya disebut upacara Nuntun Dewa Hyang. Tahap ini juga kadang disebut Upakara Ngalinggihan Dewa Hyang di Pelinggih Kamulan. Karena Dewa Hyang atau Atma dituntun terakhir ke Pelinggih Kamulan maka Pelinggih Kamulan dalam berbagai literatur lontar disebut sebagai stana Sang Hyang Atma.
Lontar Angastya Prana menceritakan bahwa saat jabang bayi ada dalam kandungan berada dalam pengawasan Dewa Siwa. Setelah sembilan bulan lebih jabang bayi tersebut ada dalam kandungan maka Dewa Siwa minta agar jabang bayi itu lahir ke dunia. Diceritakan jabang bayi itu takut lahir ke dunia. Jabang bayi takut karena hidup di dunia itu banyak penderitaan yang akan dialami. Ada angin ribut, ada gempa, ada gunung meletus, ada kelaparan, ada banjir, ada perang dan banyak lagi ada hal-hal yang membuat orang menderita. Atas jawaban jabang bayi itu Dewa Siwa menyatakan bahwa engkau tidak perlu takut hidup di dunia, nanti saudaramu yang empat itu akan membantu kamu mengatasi segala derita. 
"Untuk itu kamu harus minta bantuan kepada saudaramu yang empat itu yang disebut Catur Sanak," sabda Batara Siwa. Catur Sanak itu adalah ari-ari atau plasenta, darah, lamas dan yeh nyom. Empat hal itulah yang melindungi dan memelihara secara langsung sang jabang bayi dalam kandungan ibunya. 
Lanjut kisah Lontar Angastya Prana, sang jabang bayi bersedia minta tolong pada Sang Catur Sanak. Permintaan jabang bayi itu disanggupi oleh Sang Catur Sanak dengan catatan agar setelah lahir ke dunia sang bayi tidak boleh lupa dengan dirinya. Dengan kesepakatan itu Sang Catur Sanak mendorong sang jabang bayi lahir ke dunia.
Setelah sang bayi dan Catur Canak sama-sama lahir ke dunia, keduanya mendapatkan perlakuan sekala dan niskala. Setiap bayi diupacarai secara keagamaan. Sang Catur Sanak pun ikut serta diupacarai. Nama Sang Catur Sanak berubah menjadi seratus delapan kali. Demikianlah sampai sang bayi meningkat dewasa, tua dan sampai meninggal.
Saat bayi baru lahir Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana nasi kepel empat kepel. Saat sudah meninggal roh atau Atman dipreteka dengan upacara ngaben, saat itu Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana beras catur warna. Sampai upacara Atma Wedana dan roh mencapai Dewa Pitara distanakan di Pelinggih Kamulan, maka Catur Sanak distanakan di Pelinggih Taksu. 
Sebuah versi mengatakan bahwa ke empat Catur Sanak adalah perwujudan Dewa Siwa sendiri. Keberadaan ajaran Catur Sanak sendiri tidak terpisahkan dengan ajaran Siwaistik yaitu Panca Kausika. Karena itulah Palinggih Taksu tidak bedanya dengan Palinggih Hyang Siwa. 
Taksu dalam teks dan konteks di atas adalah kisah penciptaan dan kembali ke alam asal (alam kematian). Taksu atau Sang Pencipta atau Sang Muasal adalah Batara Siwa yang di dunia dan kehidupan sehari-hari kita puja sebagai Batara Hyang Guru atau Taksu. Beliau berkedudukan sebagai guru niskala dan pembimbing kehidupan batiniah orang Bali sekaligus penuntun dalam menjalani kehidupan di dunia.
Wana Parwa 27.214 menjelaskan ada lima macam Guru. Atman adalah satu dari lima guru yang dinyatakan dalam Vana Parwa tersebut. Pendirian tempat pemujaan keluarga di Ulun Karang tempat tinggal adalah untuk menstanakan Atman kembali ke muasalnya sebagai Batara Hyang Guru. 
Hari Raya Pagerwesi, yang merupakan salah satu hari raya penting di Buleleng, adalah perayaan Batara Taksu atau Hyang Paramesti Guru. Lontar Sundarigama menyebutkan: "Budha Kliwon Sinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh." Artinya: Rabu Kliwon Sinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia. 
Kemulan Taksu adalah sebuah pusat batiniah dalam sebuah keluarga Hindu di Bali. Kemulan Taksu adalah sarana pemujaan terhadap Hyang Siwa (Tuhan Yang Tunggal) sebagai pelindung dan sekaligus guru batin. Hyang Siwa dalam puja sehari-hari disebut Batara Hyang Paramesti Guru atau juga Batara Taksu.



 

Sample text

Sample Text