Bali Mamuja

berisikan catatan tentang dinamika budaya Bali

Kamis, 09 Juli 2015











Taksu, Catur Sanak dan Batara Hyang Guru.
Kabligbagang antuk Sugi Lanus
Dalam kesenian Bali kata 'taksu' adalah pembendaharaan kata yang sangat penting, sekaligus bisa mengundang berbagai interpretasi. Namun tidak banyak yang melihat konteks teologi kata 'taksu'.
Kata ”taksu” dikatakan berasal dari kata Sanskrit ”aksi” artinya melihat. Kemampuan seseorang melihat dengan mata batin dan penuh perhatian, menembus sampai ke ujung makna terdalam, itulah yang disebut mataksu. 
Ada pula pandangan yang mengatakan bahwa taksu berasal dari kata Sanskrit "taksh" yang artinya mencipta dan menemukan (create and invent). Seseorang yang punya kekuatan untuk 'menemukan' atau 'mencipta' dan juga menunjukan orisinalitas dirinya itulah disebut 'metaksu'.
Dalam konteks teologi Bali sangat jelas posisi kata 'taksu'. Batara Taksu adalah gelar Batara (Dewa Siwa). 'Aksi' atau 'taks': 'Melihat' dan 'mencipta' adalah sifat Keilahian. Secara turun-temurun orang Bali, walaupun banyak yang tidak sadar, menyebut dan memuja Hyang Siwa sebagai Batara Taksu, yang pelinggih atau altarnya ada disetiap Sanggah/Mrajan keluarga orang Bali.
Kemulan Taksu sebagai pemujaan Batara Siwa
Di hulu halaman (Ulun Karang) setiap rumah tinggal umat Hindu di Bali terdapat tempat pemujaan yang disebut Merajan/Sanggah Kemulan. Salah satu pelinggihnya disebut Taksu. Kamulan posisinya di deret timur dari areal Merajan. Sebutan lain untuk Kemulan Taksu adalah Pelinggih Batara Hyang Guru.
Keberadaan Pelinggih Taksu dan Kemulan berkaitan erat dengan kepercayaan terdalam Hindu yaitu Atma (ruh suci).
Disebutkan dalam Lontar Purwa Bhumi Kamulan, bahwa Atman yang telah mencapai tingkat Dewa Pitara atau Siddha Devata distanakan di Pelinggih Kamulan. Lontar lain yaitu Lontar Gayatri mengatakan manusia yang meninggal ruhnya sebut Preta, setelah diaben menjadi Pitara, lewat proses Atma Wedana menjadi Dewa Pitara.
Lontar Siwa Tattwa Purana sangat detail menyangkut upacara Ngaben. Disebutkan ada lima jenis upacara Atma Wedana berdasarkan besar kecilnya upacara yaitu: Ngangsen, Nyekah, Mamukur, Maligia dan Ngeluwer. Setelah sang ruh disucikan menjadi Dewa Pitara masih ada proses lanjutan berupa upacara yang disebut Dewa Pitra Pratistha, atau umumnya disebut upacara Nuntun Dewa Hyang. Tahap ini juga kadang disebut Upakara Ngalinggihan Dewa Hyang di Pelinggih Kamulan. Karena Dewa Hyang atau Atma dituntun terakhir ke Pelinggih Kamulan maka Pelinggih Kamulan dalam berbagai literatur lontar disebut sebagai stana Sang Hyang Atma.
Lontar Angastya Prana menceritakan bahwa saat jabang bayi ada dalam kandungan berada dalam pengawasan Dewa Siwa. Setelah sembilan bulan lebih jabang bayi tersebut ada dalam kandungan maka Dewa Siwa minta agar jabang bayi itu lahir ke dunia. Diceritakan jabang bayi itu takut lahir ke dunia. Jabang bayi takut karena hidup di dunia itu banyak penderitaan yang akan dialami. Ada angin ribut, ada gempa, ada gunung meletus, ada kelaparan, ada banjir, ada perang dan banyak lagi ada hal-hal yang membuat orang menderita. Atas jawaban jabang bayi itu Dewa Siwa menyatakan bahwa engkau tidak perlu takut hidup di dunia, nanti saudaramu yang empat itu akan membantu kamu mengatasi segala derita. 
"Untuk itu kamu harus minta bantuan kepada saudaramu yang empat itu yang disebut Catur Sanak," sabda Batara Siwa. Catur Sanak itu adalah ari-ari atau plasenta, darah, lamas dan yeh nyom. Empat hal itulah yang melindungi dan memelihara secara langsung sang jabang bayi dalam kandungan ibunya. 
Lanjut kisah Lontar Angastya Prana, sang jabang bayi bersedia minta tolong pada Sang Catur Sanak. Permintaan jabang bayi itu disanggupi oleh Sang Catur Sanak dengan catatan agar setelah lahir ke dunia sang bayi tidak boleh lupa dengan dirinya. Dengan kesepakatan itu Sang Catur Sanak mendorong sang jabang bayi lahir ke dunia.
Setelah sang bayi dan Catur Canak sama-sama lahir ke dunia, keduanya mendapatkan perlakuan sekala dan niskala. Setiap bayi diupacarai secara keagamaan. Sang Catur Sanak pun ikut serta diupacarai. Nama Sang Catur Sanak berubah menjadi seratus delapan kali. Demikianlah sampai sang bayi meningkat dewasa, tua dan sampai meninggal.
Saat bayi baru lahir Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana nasi kepel empat kepel. Saat sudah meninggal roh atau Atman dipreteka dengan upacara ngaben, saat itu Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana beras catur warna. Sampai upacara Atma Wedana dan roh mencapai Dewa Pitara distanakan di Pelinggih Kamulan, maka Catur Sanak distanakan di Pelinggih Taksu. 
Sebuah versi mengatakan bahwa ke empat Catur Sanak adalah perwujudan Dewa Siwa sendiri. Keberadaan ajaran Catur Sanak sendiri tidak terpisahkan dengan ajaran Siwaistik yaitu Panca Kausika. Karena itulah Palinggih Taksu tidak bedanya dengan Palinggih Hyang Siwa. 
Taksu dalam teks dan konteks di atas adalah kisah penciptaan dan kembali ke alam asal (alam kematian). Taksu atau Sang Pencipta atau Sang Muasal adalah Batara Siwa yang di dunia dan kehidupan sehari-hari kita puja sebagai Batara Hyang Guru atau Taksu. Beliau berkedudukan sebagai guru niskala dan pembimbing kehidupan batiniah orang Bali sekaligus penuntun dalam menjalani kehidupan di dunia.
Wana Parwa 27.214 menjelaskan ada lima macam Guru. Atman adalah satu dari lima guru yang dinyatakan dalam Vana Parwa tersebut. Pendirian tempat pemujaan keluarga di Ulun Karang tempat tinggal adalah untuk menstanakan Atman kembali ke muasalnya sebagai Batara Hyang Guru. 
Hari Raya Pagerwesi, yang merupakan salah satu hari raya penting di Buleleng, adalah perayaan Batara Taksu atau Hyang Paramesti Guru. Lontar Sundarigama menyebutkan: "Budha Kliwon Sinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh." Artinya: Rabu Kliwon Sinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia. 
Kemulan Taksu adalah sebuah pusat batiniah dalam sebuah keluarga Hindu di Bali. Kemulan Taksu adalah sarana pemujaan terhadap Hyang Siwa (Tuhan Yang Tunggal) sebagai pelindung dan sekaligus guru batin. Hyang Siwa dalam puja sehari-hari disebut Batara Hyang Paramesti Guru atau juga Batara Taksu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text