Bali Mamuja

berisikan catatan tentang dinamika budaya Bali

Rabu, 03 Desember 2014

GEGURITAN TAMTAM



TEKS GEGURITAN TAMTAM DALAM KAJIAN FILSAFAT PARENNIAL
Oleh 
I Nyoman Suka Ardiyasa
Karyasiswa S2 Pendidikan Bahasa Bali

Filsafat perennial harus dimulai dengan kesadaran mengosongkan diri dari prasangka-prasangka, sehingga kita siap membuka diri untuk menghayati kebenaran-kebenaran baru secara epistemologis, dari mana pun datangnya. Dalam istilah Gaguritan Tamtam, hanya dengan menjadi kosong seseorang mampu mengisi kaguman sediri tanpa batas. Dengan mengosongkan diri maka kekaguman sebagai awal munculnya epistemologi akan bemakna secara filosofi untuk merangkai butir-butir pengetahuan agama dan spiritualitas. Tamtam memulai pernyataan dan pertanyaannya, setelah berhadapan dengan raja Mesir beserta putrinya, Dewi Adnya Swari:
Titiang janma sunantara,
Nista lacur manumadi,
Malarapan suka legawa,
Catur bekel titiang pasti,
Suka duka lara pati,
Nika wantah titiang tikul,
titiang mewasta I Tamtam,
Nyadia titiang tangkil mangkin,
Ring sang Ayu,
Sane telas tunas titiang.
(Gaguritan tam tam, pupuh sinom,19)
Artinya:
Saya adalah seorang pengembara,
Rendah dan miskin saya menjelma,
Saya terima dengan senang hati,
Empat yang menjadi bekal saya,
Suka, duka, penderitaan, dan kematian,
Itulah yang selalu mengikuti saya,
Nama saya I Tamtam,
Kedatangan saya menghadap sekarang,
Kehadapan Dewa Ayu,
Yang habis yang saya minta

Dari sudut pandang hermeneutik, kata telas (habis) bisa dimaknai sebagai “kosong” Demikian pula kata “sunantara” tidak harus diterjemahkan hanya sebagai “wilayah seberang” atau “pengembara” istilah sunantara bisa diurai berasal dari kata “surya” dan “antara” yang kedua-duanya berarti “kosong” mistik kejawen menyebut “sunantara” sebagai “alam sunya ruri” atau alam kosong tanpa tepi, yaitu alam yang ingin dicapai Kaum mistik ketika mengadakan semadi (Endraswara, 2003:24). Dalam keadaan kosong maka secara epismologis perbedaan-perbedaan antara tinggi dan rendah, kaya, dan miskin, suka dan duka menjadi lebur dan kehilangan makna dualitasnya. Dia menjadi non-dualitas, menjadi tunggal, menjadi advaita. Dalam persepsi non-dualitas: “suka, duka, penderitaan, dan kematian” yang oleh Tam Tam dikatakan selalu mengikuti dirinya, tidak lagi menjadi beban kehidupan yang menakutkan, malahan dapat diterima “dengan senang hati”.
            Dalam teks (Pupuh Sinom, 19) seperti kutipan, Tam Tam telah mengatasi segala bentuk dualitas. Dia telah mampu memandang kehidupan sebagai satu kesatuan makna yang esensial. Dia tidak lagi terguncang oleh hal-hal yang dalam wawasan emperik seorang awam dianggap sebagai ”luar biasa”. Dia juga tidak meremehkan hal-hal kecil yang sering dianggap sebagai “biasa”. Hadi (1994:14) mengatakan bahwa dalam mengungkapkan hal-hal biasa merupakan pekerjaan yang paling sulit  “Didalam kasanah kehidupan biasa dan keseharianlah pertanyaan-pertanyaan filosofis muncul dan terus hadir”.
            Tam Tam datang untuk menanyakan hal yang paling biasa, paling sederhana, dan paling keseharian kepada Dewi Adnya Swari, yaitu tentang “kosong” Apa makna kosong? Apa isi kosong? Di mana mencari kosong? Dalam keadaan bagaimana manusia bisa disebut kosong? Pertanyaan ini bisa dibuat lebih panjang dan lebih luas lagi, sepanjang dan luas pengetahuan masing-masing penanya.
            Berdasarkan uraian “analisis Geguritan Tam Tam” dan “analisis Epistemologis perennial Hindu-Islam” diatas, dapat disimpulkan bahwa kenyataan yang ada dibalik teks geguritan Tam Tam adalah pencarian “kosong”. Kosong dalam geguritan Tam tam digambarkan sebagai :’ yang abadi tak pernah berubah / maha besar memenuhi semesta /ada tetapi tiada/ paling besar dan paling kecil/ kosong tetapi berisi/ habis tetapi tersisa/memenuhi semesta alam tetapi cukup di tempat yang kecil/ seperti angan –angan //”. Sementara Endraswara (2003:24)  menyebut alam kosong sebagai” alam sunya ruri” yang juga dicari kaum mistik ketika melakukan semadinya. Dari sudut pandang hermeneutik: itulah Tuhan, Yang Maha Ada, Allah atau Brahman jadi, pencarian “kosong” dalam geguritan Tam Tam bermakna usaha mendekatkan diri kepada Tuhan.
            Secara epistemologis perennial makna “kosong” dapat dikaitkan dengan ajaran “sunya” dan “moksa” dalam ajaran agama Hindu, serta dengan ajaran “fana” dan “ma’rifah” dalam Islam . Pembahasan kaitan makna kosong dengan pandangan filsafat epistemologis perennial Hindu-Islam akan meliput:
·         Epistemologis perennial makna kosong dari sudut pandang agama Hindu
·         Epistemologis perennial makna kosong dari sudut pandang agama Islam.
·           Persamaan makna kosong dalam Hindu dan Islam.
            Dalam tradisi spiritualitas Hindu di Bali, Tuhan disebut pula dengan julukan Sanghyang Embang, atau dalam istilah filosofis : Ada Yang Kosong. Dalam Ganapati Tattwa (tim penyusun,1999:10) disebutkan, pada awal ciptaan tidak ada apa-apa. Tidak ada bumi, tidak ada langit, tidak ada ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Yang ada hanyalah Tuhan Maha Esa dalam keadaan nirguna, sukha Acintya, atau berkeadaan maha bahagia yang tak terpikirkan.
            Penciptaan juga berawal dari kekosongan. Dalam dalam dua belas tahap atau jenjang penciptaan menurut Hindu di Bali yang disebut “Tattwa Rwawelas” (Sura dkk, 1991:53), dikatakan paling awal terjadi dalam ciptaan itu adalah esensi yang teramat halus dan gaib, yang dapat kita samakan dengan kekosongan : “duk tan hana paran –paran, anruang-anruwung…” (ketika tidak ada apa-apa, semua kosong).
            Siwa (Tuhan Yang Maha Esa) merupakan asal mula alam semesta, berkeadaan sunya (sepi), absolut, dan merupakan ada yang mutlak. Dari Siwa muculah Brahma (Sang Purusa) yang merupakan benih kehidupan. Dari Sang Purusa Muncul Wisnu (Awkya), yaitu azas material atau kebendaan tanpa jiwa itulah Pradana (prakerti). Awyakta kemudian muncul berturut-turut budhi (azas intelegensi), ahamkara (ego), Pancatanmtra (lima unsur: sabda, sparsa, rupa, rasa, dan gandha), dan manah, yaitu azas akal dan pikiran.Dari manah muncul akasa yang menjadi benih suara. Dari akasa muncul bayu bersifat sabda dan spara (rabaan).  Dari bayu muncul agni yang mengandung sifat-sifat sabda, rupa, dan rasa. Dari Agni muncul apakah yang mengandung sifat-sifat sabda, sparsa, rupa, dan rasa. Dari apah timbul prthiwi yang mengandung sifat-sifat sabda, sparsa, rupa, rasa, dan gandha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text